Faktamedan.id, EKONOMI – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) secara resmi melakukan langkah strategis spin-off atau pemisahan unit bisnis Wholesale Fiber Connectivity. Unit bisnis ini kini bertransformasi menjadi entitas baru bernama PT Telkom Infrastruktur Indonesia atau lebih dikenal dengan nama InfraNexia.
Keputusan besar ini telah mendapatkan restu penuh dari para pemegang saham independen melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Langkah ini merupakan bagian krusial dari strategi jangka panjang TLKM 30 untuk meningkatkan daya saing perusahaan di era transformasi digital.
Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, mengungkapkan bahwa InfraNexia akan menjadi penggerak pertumbuhan (growth engine) baru yang lebih tangkas dan fokus.
“Dengan struktur yang lebih ramping, InfraNexia diharapkan mampu menarik kemitraan strategis global dan meningkatkan efisiensi operasional secara signifikan,” ujar Dian dalam keterangannya, Rabu (21/1/2026).
Kekuatan Aset: Empat Kali Keliling Bumi
InfraNexia dibekali dengan aset infrastruktur yang sangat masif untuk mendominasi pasar konektivitas regional. Berikut adalah poin-poin utama kekuatan InfraNexia:
- Jangkauan Serat Optik: Mengelola aset serat optik mencapai 173.000 kilometer, sebuah angka yang setara dengan empat kali keliling bumi.
- Fokus Bisnis: Optimalisasi jaringan backbone dan akses untuk melayani kebutuhan wholesale (grosir) telekomunikasi.
- Nilai Strategis: Menjadi penyedia infrastruktur pasif dan aktif yang akan menopang seluruh operator seluler dan penyedia layanan internet di Indonesia.
Target Puncak 2026: Aset Rp90 Triliun
Proses pemisahan unit bisnis ini dilakukan dalam dua fase yang terukur. Fase kedua ditargetkan akan tuntas sepenuhnya pada akhir tahun 2026. Pada titik tersebut, InfraNexia diproyeksikan akan mengelola total nilai aset mencapai Rp90 triliun.
Selain fokus pada bisnis fiber, Telkom melalui InfraNexia juga dipercaya oleh pemerintah untuk mengelola Pusat Data Nasional Sementara (PDNS). Inisiatif ini selaras dengan arahan Danantara untuk memperkuat kedaulatan digital nasional.
Langkah spin-off ini diharapkan tidak hanya memberikan nilai tambah bagi pemegang saham, tetapi juga memberikan kontribusi ekonomi yang lebih besar bagi negara melalui efisiensi infrastruktur telekomunikasi yang lebih modern dan terintegrasi.
(*Drw)











