Menanti Kebangkitan Timur, Haidar Alwi: Kekayaan Alam Harus Kembali ke Tangan Rakyat

Etika Komite Reformasi Polri: Antara Koreksi dan Delegitimasi
Ir. R Haidar Alwi, MT.,(Dok. Ist)

Faktamedan.id – Suasana hangat namun penuh energi terasa di Warung WOW KWB, Mampang, Jakarta Selatan, pada Sabtu (28/3/2026). Halalbihalal Kornas Presidium Pemuda Timur yang digelar di lokasi tersebut berkembang menjadi ruang konsolidasi gagasan serius mengenai masa depan kawasan Indonesia Timur yang kaya namun belum sejahtera.

Hadir sebagai pembicara utama, Ir. R. Haidar Alwi, MT – Presiden Haidar Alwi Care sekaligus Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB. Bersama Direktur Haidar Alwi Institute, Sandri Rumanama, forum ini menekankan pentingnya kolaborasi lintas generasi sebagai fondasi membangun kekuatan baru Indonesia melalui sistem yang lebih adil dan berpihak kepada rakyat.

Paradoks Kekayaan dan Ketimpangan di Ambon

Haidar Alwi merefleksikan pengalamannya saat mengunjungi Ambon, Maluku. Ia menyoroti fenomena resource curse, di mana wilayah yang kaya sumber daya alam justru mengalami keterlambatan kesejahteraan. Maluku dengan potensi laut mencapai 90 persen wilayahnya masih menghadapi tantangan konektivitas dan biaya logistik yang sangat tinggi dibandingkan Pulau Jawa.

“Indonesia Timur tidak membutuhkan belas kasihan, tetapi membutuhkan keberanian untuk memperbaiki cara kita mengelola kekayaan. Ketika rakyat tidak memiliki akses terhadap sumber daya dan tidak dilibatkan dalam proses ekonomi, maka persatuan hanya menjadi simbol tanpa makna,” tegas Haidar Alwi dalam paparannya.

Gagasan Model Ekonomi Terintegrasi Rakyat

Sebagai seorang insinyur, Haidar Alwi menawarkan solusi melalui pembangunan sistem terintegrasi yang menghubungkan sumber daya alam, energi, dan kepemilikan rakyat. Gagasan ini menempatkan masyarakat bukan sekadar sebagai pekerja, melainkan pemilik dan pengelola melalui koperasi yang profesional dan legal, didukung oleh digitalisasi untuk transparansi.

Model ini mencakup pembangunan energi berbasis microgrid untuk wilayah kepulauan agar industri lokal, seperti pengolahan hasil tambang di Gunung Botak maupun gas di Blok Masela, dapat berkembang di daerah asal. Dengan terciptanya nilai tambah di tingkat lokal, Haidar optimis Indonesia Timur tidak hanya akan bangkit, tetapi mampu memimpin masa depan ekonomi nasional secara mandiri dan berkelanjutan.

*(Drw)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *