Hukum  

Langkah Tegas KPK: Periksa Gito Huang Guna Ungkap Aktor Utama Jaringan Korupsi Impor

OTT KPK di Banten: Oknum Jaksa Kejati Banten Diamankan
Logo KPK. (Dok. KPK)

Faktamedan.id – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mendalami gurita suap dalam importasi barang di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Terbaru pada Kamis (12/3/2026), penyidik memanggil Gito Huang yang diidentifikasi sebagai beneficial owner (pemilik manfaat) dari perusahaan logistik Blueray Cargo.

Pemeriksaan yang berlangsung di Gedung Merah Putih KPK ini bertujuan untuk menelusuri lebih jauh peran pihak swasta dalam skandal “pengaturan parameter” yang merugikan negara. Gito Huang dipanggil bersama tiga saksi lainnya dari lingkaran Blueray Cargo, yakni Antonius Sidauruk, Gatot, dan Indra Setiawan Liputra.

Modus Manipulasi Parameter Fisik

Kasus ini merupakan pengembangan dari OTT besar-besaran pada awal Februari lalu. Penyidikan kini mengarah pada peran Budiman Bayu Prasojo, Kepala Seksi Intelijen Cukai DJBC, yang diduga aktif menyembunyikan bukti dan mengelola dana suap. Modus yang dijalankan sejak Oktober 2025 ini melibatkan manipulasi parameter pemeriksaan fisik barang.

Akibat permufakatan jahat tersebut, barang-barang milik Blueray Cargo—mulai dari barang palsu hingga ilegal—dapat masuk ke Indonesia tanpa hambatan. Sebagai kompensasi, “jatah” bulanan rutin disetorkan kepada oknum di lingkungan DJBC guna memuluskan jalur tikus importasi tersebut.

Sitaan Aset Mencapai Rp40,5 Miliar

Hingga saat ini, KPK telah mengamankan aset dengan nilai total fantastis mencapai Rp40,5 miliar. Barang bukti yang disita meliputi uang tunai dalam berbagai valuta asing, logam mulia seberat lebih dari 5 kilogram, hingga jam tangan mewah yang diduga berasal dari aliran dana suap.

Penyidikan kini difokuskan pada aliran dana dari staf finance Blueray Cargo ke rekening-rekening milik para pejabat Bea Cukai. Langkah ini diambil untuk mengungkap seluruh aktor yang terlibat dalam jaringan mafia impor ini, termasuk kemungkinan keterlibatan pihak-pihak lain di level manajemen puncak.

(*Drw)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *