Faktamedan.id – Pasar logam mulia kini tengah berada di “titik didih”. Setelah sempat terpuruk di awal pekan, harga emas spot dilaporkan melonjak tajam 1,8 persen ke level 4.552,94 Dolar AS per ons pada penutupan perdagangan Rabu (25/3/2026).
Berdasarkan laporan Reuters yang dikutip Kamis (26/3/2026), fenomena ini dipicu oleh melandainya harga minyak dunia yang meredakan kekhawatiran inflasi global. Korelasi antara sektor energi dan logam mulia kini menjadi sorotan utama para pelaku pasar internasional.
Peluang Pelonggaran Kebijakan Federal Reserve
Penurunan harga minyak memberikan napas lega bagi pasar karena tekanan inflasi yang menyusut membuka peluang bagi Federal Reserve (The Fed) untuk melonggarkan kebijakan moneter. Peter Grant dari Zaner Metals menilai, jika tren penurunan inflasi ini berlanjut, emas berpotensi menembus level psikologis baru di angka 5.000 Dolar AS per ons.
Optimisme ini muncul di tengah harapan deeskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran, meskipun situasi di Timur Tengah masih sangat dinamis. Investor melihat celah keuntungan di tengah transisi kebijakan suku bunga yang diprediksi akan lebih akomodatif dalam beberapa bulan ke depan.
Safe Haven Tetap Tak Tergoyahkan
Meskipun ada upaya diplomatik melalui proposal perdamaian 15 poin, daya tarik emas sebagai aset aman (safe haven) tetap tak tergoyahkan. Kontradiksi antara upaya perdamaian dan persiapan militer di Teluk membuat investor tetap memburu emas sebagai pelindung nilai kekayaan mereka.
Sebagai catatan, pada akhir Januari lalu, emas bahkan sempat menyentuh rekor tertinggi di angka 5.594,82 Dolar AS per ons. Tidak hanya emas, harga perak pun ikut menguat ke posisi 72,41 Dolar AS. Hal ini membuktikan bahwa gairah investasi logam mulia kembali membara di tengah kompleksitas geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global 2026.
(*Drw)















